Bantul – SMKN 1 Pundong, Bantul memiliki cara unik untuk mengakhiri Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Cara unik itu adalah mengajak ratusan murid baru bermain permainan tradisional sembari mengenakan pakaian adat.

Selain untuk melestarikan budaya, kegiatan itu bertujuan meningkatkan kekompakan, kerjasama dan berbaur antar murid. Terlebih, hal itu menjadi salah satu modal penting ketika murid lulus dan memasuki dunia kerja.

Dengan mengenakan pakaian adat Jawa, ratusan murid baru SMK N 1 Pundong tampak antusias memainkan permainan tradisional seperti lompat tali dan ulo-ulo banyu. Karena membutuhkan kerjasama antar tim, tak ayal salah satu dari mereka terjatuh dan hal itu memicu gelak tawa dari murid-murid tersebut.

Kepala Sekolah SMK N 1 Pundong, Sutapa menjelaskan kegiatan tersebut sudah menjadi agenda rutin sejak tahun 2015, khususnya saat memasuki hari terakhir MPLS. Menurutnya, untuk tahun ini ada 288 murid baru yang mengikuti kegiatan unik tersebut.

“Puncaknya (MPLS di SMK N 1 Pundong) memang mengedepankan permainan tradisional. Kami kedepankan permainan tradisional agar murid mengenal kembali permainan tradisional yang saat ini sudah lama ditinggalkan,” ujarnya saat ditemui di SMK N 1 Pundong, Kabupaten Bantul, Rabu (17/7/2019).

“Sedangkan memakai baju adat itu tujuannya agar tidak lupa dengan budaya Jawa dan sebagai upaya pelestarian budaya juga,” sambung Sutapa.

Untuk permainan tradisional yang disiapkan, lanjut Sutapa seperti ulo-ulo banyu, jlong jling, bas-basan, ular tangga dan lompat tali. Pemilihan jenis permainan itu juga bukan tanpa alasan, menurutnya permainan tersebut memicu murid-murid agar mau bekerja sama satu sama lain.

“Tujuannya agar mereka (murid baru) bisa berbaur, meningkatkan kerjasama dan memahami emosi satu sama lain. Meski sederhana, hal-hal itu akan jadi modal penting saat mereka lulus nanti,” katanya.

“Karena lulusan SMK kebanyakan kan langsung bekerja, apalagi di dunia kerja kadang dibutuhkan kerjasama tim. Jadi dengan kegiatan ini harapannya mereka bisa cepat berbaur dan bekerjasama saat memasuki dunia kerja,” imbuh Sutapa.

Salah seorang murid baru, Shinta Amelia Putri menuturkan ia sempat kesulitan saat bermain ulo-ulo banyu. Namun, setelah ikut bermain ia akhirnya memahami makna permainan tersebut.

“Saya tadi main ulo-ulo banyu, lumayan susah karena harus kompak semua saat bermain. Tapi di situlah saya jadi semakin kenal dengan teman-teman baru saya dan meningkatkan kekompakan,” ucapnya.

author